Efektivitas Pijat Menggunakan Minyak Beraroma Frangipani


LATAR BELAKANG
Wanita yang mengalami menopause, mengalami masalah fisiologis yang ditandai dengan adanya semburan panas (hot flashes), kekeringan vagina, infeksi vagina, insomnia, berkeringat pada malam hari, berat badan meningkat, kulit kering, rambut rontok, pusing, jantung berdebar-debar, mudah lupa, tegang dan tak bertenaga (Siagian, 2003). Abernethy (2002) mengatakan secara psikologis wanita menopause akan mengalami seperti mudah panik, cemas, mudah depresi, salah dalam mengingat sesuatu. Hal ini merupakan akibat dari hormon estrogen yang menurun mengakibatkan permasalahan secara fisiologis dan psikologis pada ibu menopause. Ibu menopause secara psikologis sering merasa gelisah saat memasuki masa menopause. Hal ini disebabkan menurunnya fungsi seksual pada wanita serta perubahan rasa nyaman saat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya (Nugraha, 2005). Keluhan menopause yang terjadi cepat atau lambat akan menimbulkan dampak negatif bagi wanita yang bersangkutan. Kekhawatiran dan keluhan akan timbul pada masa ini. Ibu menopause mengalami suatu perubahan secara fisiologis seperti vagina mulai kering dan menyempit, timbul rasa nyeri yang sangat bila berhubungan dengan suami. Keadaan ini bila berlanjutan menyebabkan istri menolak melayani suaminya. Timbul konflik dalam rumah tangga yang berkepanjangan dan suami mulai mengalihkan diri mencari hiburan di luar rumah (Palupi, 2006). Hal ini akan mengganggu pasangan suami istri dalam melakukan hubungan seksual karena merasa kurang nyaman saat berhubungan sehingga dapat memengaruhi kualitas hidup ibu menopause.
Menurut penelitian yang dilakukan Neugarten, Newman & Newman (1986) pada 78 wanita, setelah mengalami menopause, wanita menunjukkan respons mudah marah, mudah tersinggung dan cemas yang berlebihan terutama kecenderungan takut kehilangan daya tarik seksualnya. Suatu penelitian menegaskan bahwa wanita menopause yang menderita hypoactive sexual desire disorder (HSDD) atau nafsu seks rendah, memiliki kualitas hidup yang lebih rendah dibanding mereka yang menikmati kehidupan seksnya meski telah berusia senja. Hal ini disebabkan oleh stres yang berkepanjangan dan masalah interpersonal lainnya (Lestari, 2006). Laporan riset pada 2006 menyebutkan hampir 40% wanita di Amerika mengalami masalah seksual, hanya 12% yang merasa tertekan dengan gangguan tersebut. Penelitian Shifren (2006) yang melibatkan 32.000 responden wanita berusia 40 tahun ke atas. Secara keseluruhan sebanyak 43,1% responden mengalami beragam masalah seksual saat menopause. Sebanyak 39% mengalami hasrat atau gairah menurun, 26% mengalami masalah rangsangan, dan 21% mengeluhkan soal pencapaian orgasme (Perez, 2008).
Wanita memiliki usia harapan hidup lebih tinggi daripada pria. Menurut badan kesehatan dunia (BKD), usia harapan hidup wanita Indonesia 67 tahun saat ini dan 75 tahun pada tahun 2025 (Siagian, 2003). Secara kodrati wanita mengalami fase perubahan fisiologis yang berbeda dengan pria (Leman, 2004). Mengawali masa remajanya wanita mengalami menstruasi yang secara normal terjadi setiap bulan dan berlangsung selama usia reproduktif. Selanjutnya wanita menjalani masa kehamilan dan menyusui yang melelahkan, fase ini akan berakhir dengan datangnya masa menopause yang umumnya terjadi pada usia 45 tahun (Siagian, 2005). Data Departemen Kesehatan RI (2001) perempuan Indonesia yang memasuki menopause saat ini sebanyak 7,4% dari populasi. Jumlah tersebut diperkirakan meningkat menjadi 11% pada tahun 2005 dan akan naik lagi sebesar 14% atau sekitar 30 juta orang pada tahun 2015 (Wahyuni, 2005). Masalah seksual pada ibu menopause yang terjadi di Desa Jabon. Dari 5 ibu menopause, 4 orang mengatakan terganggu saat melakukan hubungan seksual dengan suami dikarenakan rasa nyeri saat berhubungan. Rasa tegang dan tertekan selalu hadir bila suami mengajak melakukan hubungan seksual.
Menopause mengalami keluhan fisik yang bersifat individual yang dipengaruhi sosial budaya, pendidikan, lingkungan dan ekonomi (Kasdu, 2002). Keluhan fisik maupun psikologis tentu akan mengganggu kesehatan dan dapat mempengaruhi kualitas hidup wanita tersebut. Ibu menopause yang mengalami masalah dalam kualitas hidupnya akan memberi pengaruh buruk bagi lingkungannya terutama suami dan anak-anaknya. Beberapa penelitian telah membuktikan bahwa tekanan psikis yang timbul dari nilai sosial mengenai wanita menopause memberikan kontribusi terhadap gejala fisik selama periode pre dan pasca menopause. Dalam masa ini wanita menopause sering mengalami depresi (menopausal depression) yang ditandai dengan the emptyness syndrom atau ibu merasa kesepian walau berada di tengah keramaian. Sindrom ini muncul dalam bentuk perilaku yang seringkali berada di luar kontrol dan sulit dimengerti oleh lawan interaksinya (Perez, 2003).
Permasalahan-permasalahan pada ibu menopause dapat menimbulkan gangguan kejiwaan pada ibu seperti merasa tidak berdaya, sensitif dan mudah curiga, sehingga dibutuhkan koping yang adaptif bagi wanita dalam menghadapi masa menopause. Underwood (2000) mengatakan koping adalah perubahan kognitif dan perilaku secara konstan dalam upaya untuk mengatasi tuntutan internal dan atau eksternal khusus yang melelahkan atau melebihi sumber individu. Banyak hal yang dapat dilakukan wanita dalam menghadapi menopause, salah satunya dengan selalu berpikir positif dalam menghadapi setiap permasalahan (Kuntjoro, 2002). Sebetulnya menanamkan nilai-nilai yang menganggap menopause sebagai hal yang positif dan realistis di lingkungan kaum perempuan merupakan permasalahan yang paling utama. Titik pandang baru ini akan berkembang karena perempuan telah belajar lebih banyak tentang bagaimana seharusnya menghayati perubahan-perubahan pada usia paruh bayanya dengan kesehatan dan ketenangan hidup yang maksimal (Wahyuni, 2005). Budaya barat sangat menghargai usia muda serta fisik yang sehat, sehingga ketika menginjak usia tua, wanita seperti kehilangan status, peran dan fungsi akibat dari depresi pasca menopause. Akan tetapi, bagi sebagian wanita, menopause bukan berarti kehilangan segalanya, tetapi suatu keringanan dalam melakukan hubungan seksual tanpa harus merasa khawatir terjadi kehamilan, hassle of menstruation, dan rasa tidak nyaman akibat penggunaan alat kontrasepsi (Perez, 2003).
Budaya wanita Jawa, saat menopause mereka tidak boleh mengeluh, menerima dan tidak diizinkan mengambil keputusan sendiri. Budaya Jawa yang kuat berdampak pada wanita menopause, keluhan-keluhan yang menyangkut masalah reproduksi tidak dapat diekspresikan dengan baik sehingga pemecahan masalah tidak dilakukan (Wagiyo, 2005). Namun, dalam masyarakat Bugis fase menopause dinilai sebagai sesuatu yang positif karena wanita menopause merasa tubuhnya lebih bersih dan dapat menjalankan ibadah dengan penuh (Wahyuni, 2005). Ada beberapa cara yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan dan terbukti efektif untuk mengatasi permasalahan seksual pada pasangan dengan ibu menopause. Olahraga dan selalu mengkonsumsi makanan berserat tinggi serta menghindarkan diri dari kebiasaan merokok, minum minuman beralkohol dan terapi sulih hormon (TSH) dapat membantu ibu menghadapi permasalahan yang terjadi saat menopause. TSH penggunaannya sudah dimulai sejak tahun 1978 yang berguna untuk menggantikan peran hormon estrogen yang telah berkurang produksinya sehingga dapat membantu lubrikasi pada wanita (Depkes RI, 2001). Penelitian yang dilakukan oleh Soden (2004), di sebuah klinik menopause di Perancis tentang masalah nyeri saat berhubungan seksual pada ibu menopause, setelah diberikan terapi komplementer menggunakan tehnik pijat dengan minyak beraroma frangipani, didapatkan hasil bahwa kombinasi aromaterapi frangipani dan masase dapat menurunkan nyeri saat berhubungan seksual dengan menggunakan visual analog score (VAS) (Henson, 2004). Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pijat dengan minyak beraroma frangipani efektif untuk mengurangi rasa nyeri.
Masalah fisik dan psikologis pada ibu menopause akan dapat berkurang jika ibu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam perawatan diri sendiri sebagai aktifitas yang dilakukan untuk mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan (Tomey & Alligood, 2006). Pengetahuan dan keterampilan dalam perawatan diri dapat meningkatkan kualitas kehidupan. Perawat maternitas sebagai salah satu tenaga kesehatan mempunyai peranan penting dimana pasangan dengan ibu menopause termasuk dalam lingkup area keperawatan maternitas. Peran perawat maternitas antara lain sebagai edukator yang dapat memberikan informasi melalui pendidikan kesehatan tentang menopause, teknik meningkatkan hubungan seksual yang sehat dan nyaman, mengajarkan cara alternatif bagi pasangan dengan ibu menopause seperti terapi komplementer yang menggabungkan teknik pijat dengan minyak frangipani. Frangipani terdiri dari beberapa unsur seperti senyawa triterpenoid dan amyrin yang bersifat relaksan (Hariana, 2008). Sifat relaksan yang ditimbulkan oleh minyak beraroma frangipani dapat membantu meningkatkan kenyamanan saat berhubungan seksual (Dean, 2005). Peneliti juga memberikan informasi tentang perilaku hidup bersih, sehingga hubungan seks dapat dilakukan dengan nyaman tanpa adanya rasa keterpaksaan.
Salah satu solusi bagi ibu menopause selain menggunakan terapi pengobatan farmakologis adalah dengan menggunakan terapi non farmakologis. Terdapat bermacam-macam pendekatan non farmakologi untuk mengatasi rasa nyeri atau rasa tidak nyaman saat berhubungan seksual pada ibu menopause. Depkes mencatat ada 20 jenis pengobatan komplementer, terbagi dalam pendekatan dengan keterampilan (pijat, refleksi), dengan ramuan (aromaterapi, sinshe), serta dengan pendekatan rohani dan supranatural (meditasi, yoga, reiki) (Azwar, 2004). Pengobatan komplementer merupakan bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat atau bahan yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern (pelayanan kedokteran standar) tetapi dipergunakan sebagai pelengkap pengobatan kedokteran modern (Primadiati, 2002). Frangipani adalah nama lain dari bunga kamboja merupakan salah satu jenis aromaterapi. Frangipani terdiri dari beberapa unsur seperti senyawa triterpenoid dan amyrin yang bersifat relaksan (Hariana, 2008). Sifat relaksan yang ditimbulkan oleh minyak beraroma frangipani dapat membantu meningkatkan kenyamanan saat berhubungan seksual (Dean, 2005).[...]

0 Response to "Efektivitas Pijat Menggunakan Minyak Beraroma Frangipani"

Post a Comment